Desa Buniayu dahulu kala adalah merupakan hutan belantara yang mana pada waktu itu sebagai orang pertama yang membuka hutan di Desa Buniayu adalah mbah Buyut Lekor. Dalam kehidupan sehari-harinya adalah menebang hutan untuk menjadikan lahan pertanian dan beliau hidup rukun dalam berumah tangga, mbah Buyut Lekor hidup dengan seorang istri dan satu anak perempuan. Beliau setiap hari berjuang menebang hutan untuk menjadikan lahan pertanian dan Mbah Buyut Lekor selalu tekun merawat tanaman yang dibantu oleh istri dan anaknya. Pada suatu ketika Mbah Buyut Lekor sedang berada ditepi sungai kebetulan rumah Mbah Buyut Lekor berada di dekat sungai, ia melihat sebatang kayu kecil terbawa air dan diambilnya kayu tersebut. Kayu tersebut adalah sebatang kayu jati dan oleh Mbah Buyut Lekor dibuat sebuah tongkat (teken). Pada suatu hari Mbah Buyut Lekor berjalan-jalan kearah selatan dari rumahnya dan disebuah tempat ia istirahat kemudian ia menancapkat tongkat (teken) sehingga tumbuh menjadi pohon besar dan daerah tersebut sekarang dinamai Jati Teken.

 

Seiring bertambahnya waktu sehingga putrinya tumbuh menjadi dewasa dan sampai meningggal dunia putri Mbah Buyut Lekor tidak mempunyai suami (Perawan Sunti). Konon menurut dongeng sampai sekarang di Desa Buniayu ada juga yang menjadi perwan sunti atau anakperempuan sampai meninggal ia tidak menikah. Akhir riwayat Mbah Buyut Lekor sebelum meninggal dunia, tempat tinggalnya dinamai dengan Gandu Sari yaitu dari kata Gandul (pepaya) dan Sari (enak) yang artinya Pepaya yang sangat enak karena Mbah Buyut Lekor semasahidupnya senang sekali dengan buah pepaya. Mbah Buyut Lekor meninggal dunia dan dimakamkan dipemakaman Gandu Sari bersama istri dan putrinya si perawan sunti. Cerita ini diriwayatkan oleh orang tua yang senang menggali tentang asal mula adanya Desa Buniayu, benar atau tidaknya Wallohu A’lam hanya Alloh yang tahu.

 

Setelah Mbah Buyut Lekor meninggal dunia ia meninggalkan lahan pertanian yang luas maka datanglah orang kedua. Singat cerita dimasa penjajahan Belanda Desa tersebut menjadi suatu wilayah pemerintahan Belanda yang dipimpin oleh seorang perempuan yang bernama Fulanah. Dan dimasa pemerintahannya, beliau setiap menyetorkan pajak ke Kabupaten selalu menyuruh bawahannya untuk menyetorkan pajak tetapi setiap menyetorkan pajak mereka selalu dirampok didaerah Krumput sekarang menjadi Perkebunan Karet Krumput. Ahirnya si Fulanah berangkat sendiri menyetorkan pajak dengan menaiki kuda yang sangat gagah, sewaktu di perjalanan di daerah Krumput ia dihadang oleh sekawanan perampok dan ahirnya terjadilah pertarungan yang sengit. Ahirnya si Fulanah mengeluarkan senjata pamungkasnya yaitu sebuah kemben atau selendang dan pertarungan tersebut di menangkan oleh si Fulanah. Sesampainya di Kabupaten ia menceritakan kejadian tersebut kepada Bupati. Bupati terkejut atas kejadian itu dan ia menanyakan kepada si Fulanah ia berasal dari daerah mana. Si Fulanah mengatakan ia berasal dari daerah yang bernama Gandu Sari dan oleh si Bupati nama tersebut supaya diganti menjadi Buniayu yaitu Buminya yang Rahayu.

 

Tetapi ada yang menceritakan asal mula kata Buniayu berasal dari kata Ibune sing Ayu atau Ibu yang cantik karena wilayahnya dipimpin oleh seorang perempuan yang berparas cantik. Pada suatu waktu datanglah dua orang bersaudara yang bernama Mbah Wahad dan Mbah Cablaka. Mbah Wahad dan keluarganya tinggal di sebelah barat sungai sekarang Desa Buniayu dan Mbah Cablaka dan keluarganya tinggal di sebelah timur sungai sekarang menjadi Desa Bumiangung Kecamatan Rowokele Kabupaten Kebumen. Mbah Wahad mempunyai beberapa anak yang diantaranya bernama Trunadikrama yang mempunyai pekerjaan sebagai petani dan pedagang. Setelah meninggalnya si Fulanah warga mengusulkan kepada Pemerintahan Belanda supaya Trunadikrama menjadi pemimpin (Lurah) di Desa Buniayu. Di pertengahan hidupnya Trunadikrama sebagai seoarang muslim yang mampu ia berangkat Haji ke tanah Mekah dan setelah pulang ia berganti nama menjadi H. Abdul Rozak bin Wahad yang sekarang sudah berkembang anak, cucu, buyut, canggah, wareng, udeg-udeg di Desa Buniayu. H. Abdul Rozak menjabat Lurah di Desa Buniayu dari tahun 1867 sampai dengan tahun 1927 yang beralamatkan sekarang RT 04 RW 02. Setelah itu dipimpin oleh Lurah Martasenjaya dari tahun 1928 sampai dengan 1936 yang beralamatkan sekarang RT 05 RW 01. Kemudian pada tahun 1937 diadakan pemilihan Lurah dan terpilih Surasentana putra dari Trunadikrama (H. Abdul Rozak) tetapi konon Surasentana seorang buta huruf sehingga ia menjabat Lurah hanya selama 3 bulan. Selanjutnya pada tahun 1937 sampai tahun 1944 dijabat oleh Lurah Sumarjo.

 

Tahun 1944 - 1945 di jabat oleh Warnen (penjabat sementara) Wangsandinama selama enam bulan dan diteruskan oleh Warnen Kasrun sampai tahun 1946. Tahun 1947 sampai tahun 1948 dijabat oleh Lurah Madmustar alias Mintar (Cucu dari Lurah Trunadikarama atau H. Abdul Rozak). Tahun 1948 sampai dengan tahun 1949 dijabat oleh Warnen Dulah Aspar dikarenakan pada waktu itu Madmustar mengungsi disebabkan Desa Buniayu dimasuki Belanda dan setelah aman Madmustar meneruskan jabatannya kembali sampai tahun 1956.

 

Tahun 1957 - 1978 dijabat oleh Lurah M. Sofandi (Buyut dari Trunadikrama alias H. Abdul Rozak). Selama enam bulan tahu 1978 di jabat oleh YMT Lurah oleh M. Jajuli dikarenakan sedang menunaikan ibadah haji. Setelah pulang beliau meneruskan jabatan sampai tahun 1989 (32 tahun). Pada masa pemerintahan M. Sofandi hasil pembangunan dan pretasi di Desa yang jelas yaitu :

  1. Pengalihan hak atau tukar guling tanah Desa dengan tanah masyarakat yang kini menjadi lapangan SDN 2 Buniayu seluas 1 bau
  2. Pembelian tanah untuk Kas Desa yang kini dibangun Balai Desa Buniayu.
  3. Pembangunan DAM Besuki
  4. Membangun jalan tembus lapangan Gandu Sari sampai Ma’nan
  5. Pembagian Rukun Tetangga dan Rukun Warga menjadi 20 RT dan 4 RW
  6. Pembangunan tempat pendidikan SD N 1, SD N2dan SD N3 Buniayu
  7. Pelebaran jalan dan masuknya jaringan listrik PLN
  8. Padat karya pembuatan jalan gerilya
  9. Pembangunan bendung Buniayu jembatan Ijo
  10. Pembangunan pelimpah air Sigandu
  11. Pembangunan Perdil Makam Sigandu
  12. Pembuatan Jembatan Brug Seng Guntur

 

Tahun 1989 - 1990 dijabat oleh Kepala Desa Alwi Fathudin (Canggah dari Trunadikrama alias H. Abdul Rozak) selama 1 tahun dikarenakan ada suatu halangan sebelum purna tugas usai digantikan oleh YMT.

 

Tahun 1990 - 1991 dijabat oleh YMT kades Suparman Mantri Pulisi Kecamatan Tambak.

 

Tahun 1991 - 1999 dijabat oleh Kepala Desa Salimin,dimasa pemerintahannya pembangunan yang dihasilkan yaitu :

  1. Pembangunan Pendopo Balai Desa
  2. Pembangunan Polindes
  3. Pembangunan 3 Jembatan yaitu Jembatan Ma’nan, Jembatan Lor Sepur dan Jembatan Guntur Rowokele.
  4. Pembuatan jalan terobos lokasi Grumbul Guntur
  5. Pembuatan jalan terobos lokasi Grumbul Buniayu
  6. Pembuatan salur tersier Grumbul Buniayu
  7. Pengerasan jalan P3DT
  8. Pembuatan lapangan sepak bola Grumbul Sigandu

 

Setelah masa jabatan usai ada selang waktu pemilihan Kepla Desa maka di isi oleh YMT dari Tahun 1999 - 2001 dijabat oleh YMT Kades M. Kasturi dengan hasil pembangunan :

  1. TK Pertiwi desa Buniayu

 

Tahun 2001 - 2006 dipimpin oleh Kepala Desa Towiah dengam hasil pembangunan sebagai berikut :

  1. Pengerasan jalan P2MPD
  2. Pembangunan 2 Jembatan RT 03 RW 03 dan RT 05 RW 03
  3. Pengerasan jalan dan saluran
  4. Pengaspalan Jalan Kabupaten
  5. Pembangunan Talud jalan
  6. Pembangunan Mushola Balai Desa
  7. Pengaspalan Jalan kampung
  8. Pembangunan Buhg Sanmuhayat
  9. Pembangunan saluran tersier Buniayu

 

Tahun 2006 - 2007 ada selang waktu dalam pemilihan Kepala Desa maka Kepala Desa dijabat oleh PJ Kepala Desa Satori (Canggah Lurah Trunadikrama alias Lurah H. Abdul Rozak) dengan hasil pembangunan :

  1. Rehab Kantor Desa

 

Tahun 2007 - 2013 dipimpin oleh Kepala Desa Kasir dengan hasil pembangunan yaitu :

  1. Pengaspalan jalan Sigandu sepanjang 850 m
  2. Rabat beton jalan RT 05 RW 03 / PNPM
  3. Rabat beton jalan RT 05 RW 02 batasan dengan RT 03 RW 03
  4. Pembangunan Gedung Polindes kedua
  5. Program air bersih berbasis masyarakat (Pamsimas)
  6. Rabat beton jalan RT 04 RW 03 (samping Balai Desa)
  7. Rabat jalan Mushola RT 01 RW 01
  8. Pembangunan jembatan Rusmin dan Talud RT 03 Rw 01
  9. Talud RT 05 RW 03
  10. Pengaspalan jalan Grumbul Guntur
  11. Pembangunan saluran tersier Buniayu

 

Pada periode sekarang tahun 2013 - 2019 dipimpin oleh Kades SATORI (Canggah Lurah Trunadikrama alias H. Abdul Rozak) yang sedang berjalan saat ini. Sampai saat sekarang sudah melaksanakan pembangunan berupa:

  1. Pembangunan Gedung Pos PAUD “Melati”
  2. Pembangunan Rabat Beton RT 02, 03 dan 05 RW 02 sepanjang 403 M
  3. Pembangunan Talud jalan RT 05 RW 02
  4. Pembangunan Talud jalan RT 04 RW 01
  5. Pembangunan saluran Rawa Tapen
  6. Pembangunan jembatan Telar
  7. Perbaikan jembatan Mudin RT 03 RW 01
  8. Perawatan jalan aspal lokasi jalan gerilya 250 M